Kamis, 19 April 2012

“Hakikat dan Tujuan Ilmu Menurut Pandangan Islam”


Oleh: Lutfi Kusuma Dewi
  A.     Pendahuluan
Telah banyak tantangan yang muncul di tengah-tengah kekeliruan manusia sepanjang sejarah, tetapi barangkali tidak ada yang lebih serius dan lebih merusak terhadap manusia  daripada tantangan yang di bawa oleh peradaban Barat saat ini. Seorang pemikir Islam abad ini, Syed Muhammad Naquib al-Attas berani mengatakan bahwa “tantangan terbesar yang muncul secara diam-diam di zaman kita adalah tantangan ilmu, sesungguhnya bukan sebagai lawan kejahilan, tetapi ilmu yang difahami dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barat. 

Hakikat ilmu telah menjadi bermasalah karena ia telah kehilangan tujuan hakikinya akibat dari pemahaman yang tidak adil. Ilmu yang seharusnya menciptakan keadilan dan perdamaian, justru membawa kekacauan dalam kehidupan manusia bahkan ilmu yang terkesan nyata justru menghasilkan kekeliruan. Ilmu yang di sajikan dan disampaikan dengan topeng dilebur secara halus bersama-sama dengan ilmu yang benar sehingga orang lain tanpa sadar menganggap secara keseluruhannya merupakan ilmu yang sebenarnya. Watak, kepribadian, esensi, dan ruh peradaban Barat seperti apakah yang telah mengubah dirinya sendiri serta dunia ini dan membawa semua yang menerima tafsiran ilmu itu ke dalam suatu kekacauan yang menuju kepada kehancuran ? 
‘Peradaban Barat’ yang Al- Attas maksudkan adalah peradaban yang berkembang dari pencampuran historis berbagai kebudayaan, filsafat, nilai dan aspirasi Yunani dan Romawi kuno, penyatuannya dengan ajaran Yahudi dan Kristen dan perkembangan serta pembentukan lebih jauh yang dilakukan oleh orang-orang Latin, Germanik, Celtik, dan Nordik. Dari Yunani kuno diserap unsur-unsur filosofis, epistemologis, dasar-dasar pendidikan, etika, dan estetika. Dari Romawi diserap unsur- unsur hukum, ketatanegaraan, dan pemerintahan. Dari ajaran Yahudi dan Kristen diserap unsur-unsur keyakinan beragama. Dan dari orang-orang Latin, Germanik, Celtik, dan Nordik kemerdekaan, semangat kebangsaan dan nilai-nilai tradisi mereka, serta pengembangan ilmu sains (fisika) dan teknologi. 
Dengan kekuatan ini, bersama bangsa Slavia, mereka telah mendorong peradaban ini ke puncak kekuasaan. Islam juga telah memberikan banyak sumbangan yang penting kepada peradaban Barat di dalam bidang ilmu dan di dalam menanamkan semangat rasional dan sains. Tetapi ilmu serta semangat rasional dan sains itu telah di susun kembali dan ditata ulang untuk di sesuaikan dengan acuan kebudayaan Barat, sehingga melebur dan menyatu dengan unsur-unsur yang lain yang membentuk watak serta kepribadian peradaban Barat.



B.      Hakikat Manusia

Manusia memiliki hakikat ganda atau dwi hakikat (dual nature), ia adalah jiwa dan raga, ia adalah suatu diri jasmani dan ruh sekaligus yang tertera dalam QS. Al-Hijr: 29 dan QS. Al-Mu’minun: 12-14. Allah SWT mengajarkan nama-nama (al-asma’) tentang segala sesuatu (QS. Al-Baqarah : 31). Dengan ‘nama-nama itu’ dapat disimpulkan bahwa yang di maksud adalah ilmu (al-‘ilm) tentang segala sesuatu (al-ashya’).
Tempat ilmu ini, baik al’ilm maupun ma’rifah, ada pada jiwa manusia (al-nafs), hatinya (al-qalb), dan akalnya (al-‘aql). Oleh karena manusia mengetahui (‘arafa) Allah dengan mentauhidkannya sebagai tuhan sejati, maka ilmu tersebut serta realitas keadaan yang terkait dengannya mempunyai kesan mengikat manusia dalam suatu perjanjian yang menentukan dalam hidup, perilaku, dan perbuatannya dalam hubungan antara dirinya dengan Allah SWT(QS. Al-a’raf: 172). ‘Keterikatan’ dan ‘penentuan’ manusia dengan Tuhannya dalam suatu perjanjian ini dalam hal tujuan hidup, perilaku dan perbuatannya ini pada dasarnya merupakan keterikatan dan penentuan dalam bentuk agama (din) dan penyerahan diri (aslama) yang sejati. Maka, din dan aslama kedua-duanya berkait erat dalam hakikat manusia (fitrah). Tujuan sejati manusia adalah untuk menjalankan ‘ibadah kepada Allah (QS. Az-Zariyat: 56), dan kewajibannya adalah taat (ta’ah) kepada Allah SWT sesuai dengan hakikat dasar (fitrah) yang telah di ciptakan Allah baginya(QS. Ar-rum: 30). Tetapi di samping itu manusia juga “bersifat alpa atau lupa (nisyan)”. Manusia disebut insan adalah karena setelah bersaksi akan kebenaran perjanjian yang menuntutnya untuk mematuhi perintah dan larangan Allah, ia alpa (nasiya) memenuhi kewajiban dan tujuan hidupnya itu (di riwayatkan dari Ibnu ‘Abbas), “Sesungguhnya manusia disebut insan karena setelah berjanji dengan-Nya, ia lupa (nasiya)”, dengan merujuk kepada (QS. Ta Ha: 115). Sifat alpa ini merupakan penyebab keingkaran manusia, dan sifat tercela ini mengerahkannya kepada ketidakadilan(zulm) dan kejahilan (jahl)(QS. Al-Ahzab:72). Namun demikian, Allah SWT telah melengkapinya dengan daya pandangan dan kefahaman yang benar dan kecenderungan menikmati kebenaran sejati serta percakapannya dan komunikasi yang benar.
Selain itu Allah SWT telah melengkapinya dengan kecerdasan untuk membedakan yang benar dari yang salah, atau kebenaran dari kepalsuan. Meskipun kecerdasan itu mungkin membingungkannya, asalkan ia jujur dan setia terhadap hakikat dirinya yang benar, maka Allah dengan segala karunia, belas kasih dan rahmatNya, jika Ia menghendaki akan memberikan petunjukNya(huda) untuk membantunya memperoleh kebenaran dan perilaku yang benar.
Untuk menyimpulkan semua penjelasan di atas, maka dapat kita katakan sekarang bahwa manusia secara keseluruhan adalah tempat(makan atau mahall) bagi kemunculan din dan oleh karena itu ia seperti sebuah kota. Sejatinya seorang manusia tak ubahnya dengan seorang penghuni kota di dalam dirinya, penduduknya dari kerajaan dari miniaturnya sendiri.

C.      Hakikat Ilmu
Secara umum dapat difahami bahwa ilmu tidak memerlukan pendefinisian(hadd).  Makna yang terkandung dalam istilah ‘ilm secara alami dapat langsung dimengerti manusia berdasarkan pengetahuannya tentang ilmu. Karena ilmu adalah salah satu sifat yang paling penting baginya. Apa arti ilmu telah jelas baginya sehingga tidak diperlukan penjelasan yang menerangkan sifat khususnya. Telah diterima bahwa ilmu dapat diklasifikasikan ke dalam unsur-unsur yang utama, sehingga dasar pengklasifikasian, selama yang berhubungan dengan manusia itu dapat bermanfaat. Semua ilmu datang dari Allah SWT. Untuk tujuan pengklasifikasian yang sesuai dengan tindakan kita, kita katakan bahwa dengan cara yang sama sebagaimana manusia yang terdiri dari dwi hakikat yang memiliki dua jiwa, demikian pula ilmu terbagi kepada dua jenis, yang satu adalah hidangan dan kehidupan bagi jiwanya, dan yang lain adalah bekalan untuk melengkapkan diri manusia di dunia untuk mengejar tujuan- tujuan pragmatisnya.
Ilmu jenis pertama diberikan oleh Allah melalui wahyuNya kepada manusia, dan ini merujuk kepada Kitab Suci al-Qur’an. Al-Qur’an adalah wahyu yang lengkap dan terakhir, sehingga ia sudah mencakupi sebagai bimbingan dn keselamatan manusia, dan tidak ada ilmu selainnya, kecuali yang didasarkan atasnya dan yang merujuk kepadanya, yang dapat membimbing dan menyelamatkan manusia.
Di sini kita akan membicarakan ilmu pada tingkat ihsan, yaitu ketika ibadah telah tercapai, atau dengan kata lain serupa dengan ma’rifah. Karena ilmu tersebut pada akhirnya bergantung kepada Rahmat Allah sebagai prasyarat memperolehnya, maka dapatlah disimpulkan bahwa untuk mendapatkan ilmu tersebut ilmu tentang dasar-dasar Islam (islam-iman-ihsan), prinsip-prinsipnya(arkan), arti dan maksudnya, serta pemahaman dan pelaksanaannya yang benar dalam kehidupan dan amalan sehari-hari. Setiap Muslim harus mempunyai ilmu tentang persyarat itu, harus mengerti dasar-dasar islam dan Keesaan Allah, Esensi-Nya, dan sifat-sifat-Nya(tauhid), harus mempunyai ilmu tentang Al-Qur’an. Nabi SAW, sunnah dan kehidupannya, serta mengamalkan ilmu itu yang didasarkan pada amal dan pengabdian pada Allah sehingga setiap Muslim sudah berada dalam peringkat awal ilmu tingkat pertama tersebut, bahwa ia sudah siap sedia di atas jalan lurus yang akan membimbingnya menuju Allah. Pencapaiannya dalam mengejar kebaikan tertinggi(ihsan) akan bergantung kepada ilmunya sendiri, kemampuan, kekuatan perenungan, pencapaian serta keikhlasan.
Jenis ilmu yang kedua merujuk kepada ilmu-ilmu sains (‘ulum) yang diperoleh melalui pengalaman, pengamatan, dan penelitian. Ilmu jenis pertama diberikan oleh Allah kepada manusia melalui pengungkapan langsung, sedangkan yang kedua melalui usaha penyelidikan rasional dan didasarkan atas pengalamannya tentang segala sesuatu yang dapat di tangkap pancaindra dan difahami oleh akal. Yang pertama merujuk kepada ilmu tentang kebenaran objektif  yang diperlukan untuk membimbing manusia, sedangkan yang kedua merujuk kepada ilmu mengenai data yang dapat di tangkap oleh pancaindra dan difahami akal yang dipelajari untuk kegunaan dan pemahaman kita.
Dari sudut pandang manusia, dua jenis ilmu itu harus di peroleh melalui perbuatan secara sadar(‘amal), karena tidak ada ilmu yang berguna tanpa amal yang lahir dari ilmu tersebut, dan tidak ada amal yang bermakna tanpa ilmu. Ilmu yang jenis pertama menyingkap misteri wujud dan eksistensi dan mengungkapkan hubungan sejati antara diri manusia dan Tuhannya, dan oleh karena bagi manusia ilmu tersebut terkait dengan tujuan utama manusia untuk mengetahui, maka dapat disimpulkan bahwa ilmu mengenai prasyarat ilmu tersebut menjadi dasar dan asas utama untuk ilmu jenis kedua, karena ilmu yang kedua itu sendiri, tanpa bimbingan ilmu yang pertama, tidak akan dapat menuntun manusia degan benar di dalam kehidupannya dan hanya akan membingungkan, mengelirukan, dan menjerat manusia ke dalam kancah pencarian yang tanpa akhir dan tujuan.
Kita juga melihat bahwa ada batas bagi manusia terhadap ilmu jenis pertama dan tertinggi itu, sementara tidak ada batas bagi ilmu jenis kedua, sehingga selalu wujud kemungkinan pengembaraan tanpa henti yang didorong akibat penipuan intelektual dan khayalan diri di dalam keraguan dan keingintahuan yang berterusan.
Pembagian kewajiban mencari ilmu ke dalam dua kategori ini merupakan suatu cara menerapkan keadilan terhadap ilmu dan bagi orang yang mempelajarinya, karena semua ilmu tentang prasyarat ilmu jenis pertama adalah baik untuk manusia, sedangkan tidak semua ilmu jenis kedua baik untuknya. Ini karena orang yang mempelajari ilmu jenis kedua ini, yang dapat membawa pengaruh yang cukup besar dalam peranan dan kedudukan sekularnya sebagai warga negara, belum tentu merupakan seorang manusia yang baik. Konsep ‘manusia yang baik’ dalam Islam tidak hanya bermaksud ‘baik’ dalam pengertian social seperti difahami orang pada umumnya, tetapi ia juga mesti pertama-tama baik terhadap dirinya, tidak berlaku zalim(tidak adil) terhadap dirinya sebagaimana yang telah diterangkan.
Sekiranya ia tidak dapat adil terhadap dirinya, bagaimana ia dapat benar-benar adil terhadap orang lain?
Jadi kita melihat bahwa dalam islam: (a) ilmu merangkumi iman dan kepercayaan serta (b) tujuan menuntut ilmu adalah penanaman kebaikan atau keadilan dalam diri manusia sebagai manusia dan diri pribadi, dan bukannya sekadar manusia sebagai warga negara atau bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. Inilah nilai manusia sebagai manusia sejati, sebagai penduduk dalam kota dirinya (self’s city), sebagai warga negara dalam kerajaan mikrokosmiknya sendiri, sebagai ruh. Inilah yang perlu ditekankan, manusia bukan sekedar suatu diri jasmani yang nilainya di ukur dalam pengertian pragmatis yang melihat kegunaannya bagi Negara, masyarakat, dan dunia.
Sebagai landasan dan filosofis bagi tujuan dan maksud pendidikan, dan bagi pembinaan suatu ilmu teras yang terpadu dalam system pendidikan, Al-Attas merasakan penting untuk mengumpulkan kembali sifat utama pandangan islam tentang realitas. Melihat bahwa pandangan Islam terhadap realitas itu terpusat pada wujud, maka dari itu dengan cara yang sama wujud dalam islam dilihat dari suatu hierarki dari yang tertinggi hingga yang terendah. Dalam konteks ini terlihat juga hubungan antara manusia dan alam semesta, kedudukannya dalam urutan wujud dan gambaran analogisnya sebagai suatu mikrokosmos yang mencerminkan suatu makrokosmos dan bukan sebaliknya. Ilmu juga di susun secara hirarki, dan tugas kita pada masa ini adalah untuk merombak system pendidikan yang kita ketahui dan dalam beberapa hal mengubahnya, sehingga ia mencerminkan aturan disiplin di dalam system Islam.

D.     Definisi dan Tujuan Pendidikan
Keadilan sebagai suatu keadaan yang harmoni atau keadaan dimana segala sesuatu berada pada tempatnya yang benar dan tepat, situasinya dalam hubungan dengan yang lain dan keadaannya dalam hubungan dengan diri sendiri. Kemudian disebutkan bahwa ilmu tentang ‘tempat yang benar’ bagi suatu benda atau suatu wujud adalah suatu kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah ilmu yang diberikan oleh Allah untuk memungkinkan orang yang berilmu tersebut berada padanya untuk mengamalkannya sehingga ia (pengamalan dan keputusan) menyebabkan lahirnya keadilan. Dengan demikian keadilan adalah keadaan eksistensial dari kebijaksanaan yang terjelma di dalam hal-hal yang diserap oleh pancaindra dan difahami akal serta didalam alam spiritual yang berkaitan dengan jiwa manusia. Penjelmaan luaran keadilan didalam kehidupan dan masyarakat itu tidak lain daripada hadirnya adab di dalam kehidupan masyarakat. Pengertian adab pada asalnya adalah undangan kepada suatu jamuan. Konsep jamuan ini membawa makna bahwa tuan rumah adalah seorang yang mulia dan terhormat, dan ramai orang yang hadir, sedangkan para hadirin adalah mereka yang dalam penilaian tuan rumah patut mendapat penghormatan atas undangan itu. Oleh karena itu mereka adalah orang budiman dan terhormat yang diharapkan berperilaku sesuai dengan kedudukan mereka, dalam percakapan, tingkah laku dan etika yang penuh dengan kesopanan. Demikian pula halnya ilmu harus di sanjung dan dinikmati serta di dekati dengan cara yang sama sesuai dengan ketinggian yang dimilikinya. Dan inilah sebabnya Al-Attas mengatakan bahwa analogi ilmu adalah hidangan dan kehidupan bagi jiwa itu. Berdasarkan pengertian ini maka adab juga berarti mendisiplinkan fikiran dan jiwa. Ia merupakan perolehan sifat-sifat dan ciri-ciri yang baik bagi fikiran dan jiwa. Ia juga pelaksanaan perbuatan benar dan tepat  sebagai lawan dari perbuatan yang salah dan keliru sehingga menjadi  benteng yang melindungi dari keaiban.  Analogi dari undangan ke suatu jamuan  untuk ikut menikmati makanan yang lezat, dan kepada ilmu untuk menjadi hidangan bagi akal dan jiwa, dinyatakan secara jelas dan mendalam dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud ra.
اِنَّ هَذَا القُرْانُ مَأْدَبَةٌ اللَّهِ فِيْ اْلاَرْضِ فَتَعَلَّمُوْا مِن مَأَدَّبَتِهِ
“Sesungguhnya Kitab Suci Al-Qur’an ini adalah jamuan Allah di bumi, maka belajarlah dengan sepenuhnya dari Jamuan-Nya”
Maka kitab suci Al-Qur’an adalah undangan Allah ke suatu jamuan spiritual di bumi dan kita di nasihati untuk ikut mengambil bagian dengan cara mengambil ilmu sejati darinya. Pada akhirnya ilmu yang benar itu adalah ’mengecap rasanya yang sejati’, dan itulah sebabnya di katakan sebelum ini, dengan merujuk kepada unsur-unsur utama ilmu jenis pertama, bahwa manusia menerima ilmu dan kebijaksanaan spiritual dari Allah melalui ilham secara langsung. Pengalaman tersebut hampir secara serentak menyingkapkan realitas dan kebenaran sesuatu kepada penglihatan spiritualnya. Seseorang yang di dalam dirinya tersimpan adab mencerminkan kebijaksanaan, dan dalam kaitannya dengan masyarakat adab merupakan pengaturan susunan yang adil di dalamnya. Maka adab adalah persembahan keadilan sebagaimana di cerminkan oleh kebijaksanaan, dan ia adalah pengakuan terhadap berbagai hirarki dalam susunan wujud, eksistensi, ilmu, dan perbuatan yang sesuai dengan pengakuan itu. Sehingga tujuan mencari ilmu dalam islam adalah untuk menanamkan kebaikan atau keadilan pada manusia sebagai manusia dan diri pribadi. Oleh karena itu tujuan pendidikan dalam islam adalah untuk melahirkan manusia yang baik. Apa yang dimaksudkan dengan ‘baik’ dalam konsep kita tentang ‘manusia baik’ ? Unsur asasi yang terkandung dalam konsep pendidikan islam adalah penanaman adab, karena adab dalam pengertian yang luas meliputi kehidupan spiritual dan material manusia yang menumbuhkan sifat kebaikan yang dicarinya. Pendidikan adalah tepat seperti yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:
اَدَبَنِيْ رَبِّيْ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ
“Tuhanku telah mendidik (addaba) aku, dan menjadikan pendidikanku (ta’dib) yang terbaik.”
Pendidikan adalah menyerapkan dan menanamkan adab pada manusia dan ia adalah ta’dib. Jadi adab adalah apa yang mesti ada pada manusia jika ia ingin mengurus dirinya dengan cemerlang dan baik dalam kehidupan ini dan hari akhirat.
E.      Sistem Aturan dan Disiplin Islam
Sebelum ini kita telah menyebut suatu sistem aturan dan disiplin dalam islam. Islam adalah contoh terbaik dari aturan dan disiplin kosmos Illahi, dan orang yang sadar akan takdirnya dalam islam mengetahui bahwa dengan pengertian yang sama ia juga suatu aturan dan disiplin. Ia sendiri bagaikan sebuah kota, sebuah kerajaan dalam bentuk miniatur, karena di dalam dirinya seperti juga di dalam seluruh umat manusia. Manusia tahu bahwa dirinya mengetahui, dan pengalaman dari pengetahuannya seperti itu memberitahu dirinya bahwa ia adalah wujud dan eksistensi sekaligus, suatu kesatuan tetapi juga keberagaman, ia senantiasa wujud tetapi pada saat yang sama bersifat fana, pada suatu sisi ia tetap tetapi pada sisi yang lain berubah. Kepribadiannya sejak kelahiran hingga kematiannya sebagai suatu fenomena wujud tidaklah berubah sekalipun diri jasmaninya selalu berubah dan akhirnya akan mengalami kemusnahan.
Hal ini terkait dengan hakikat bahwa kepribadiannya merujuk kepada sesuatu yang tetap dalam dirinya, jiwa akalinya. Seandainya bukan karena sifatnya yang tetap ini, maka tidak mungkin bagi ilmu untuk berada dalam dirinya. Karena hakikat kepribadiannya yang tetap, maka demikian pula pendidikan dalam islam merupakan suatu proses yang terus-menerus sepanjang masa hidupnya di bumi dan ia meliputi setiap aspek kehidupan ini. Dari sudut pandang pemakaian linguistic, kita harus melihat bahwa hakikatnya istilah ‘ilm telah digunakan dalam islam untuk merangkumi keseluruhan kehidupan diantaranya spiritual, intelektual, keagamaan, kebudayaan,  perseorangan dan social, yang sifatnya adalah universal, dan bahwa ia penting untuk menuntun manusia meraih keselamatannya.
Zaman paling awal islam memulai system pendidikannya secara besar-besaran dengan masjid sebagai pusatnya hingga sekarang ini, sehingga berkembang lembaga-lembaga pendidikan seperti universitas-universitas, TPA, sekolah, dll. Dan dalam ilmu kedokteran, astronomi dan ilmu-ilmu pengabdian berkembanglah rumah sakit-rumah sakit, puskesmas,dll. Dan perlu kita ketahui bahwa perguruan-perguruan tinggi Barat di bentuk meniru model islam. Namun sekarang justru terbalik ciri-ciri umum dan struktur universitas-universitas masa sekarang  yang meniru betul-betul model barat dan masih mengungkapkan secara jelas jejak asal islamnya. Asal-usul nama institusi itu berasal dari bahasa Latin universitatem  yang dengan jelas mncerminkan konsep kulliyyah yang berasal dari islam pada mulanya. Tetapi universitas yang kemudian dikembangkan di Barat dan di tiru hari ini di seluruh dunia tidak lagi mencerminkan manusia. Ibarat manusia tanpa kepribadian, universitas modern tidak mempunyai pusat yang sangat penting dan tetap, yang menjelaskan tujuan akhirnya. Ia tetap menganggap dirinya memikirkan hal-hal universal, bahkan menyatakan memiliki fakultas dan jurusan sebagaimana layaknya tubuh suatu organ tetapi ia tidak memiliki otak, jangankan akal dan jiwa, kecuali dalam suatu fungsi pengurusan murni untuk pemeliharaan dan perkembangan jasmani.


F.       Penutup dan Saran
Menilai perumusan dan penyebaran ilmu dalam dunia Islam pada masa ini, kita harus melihat bahwa penyusupan konsep-konsep kunci daripada dunia barat telah membawa kekeliruan yang pada akhirnya menimbulkan akibat yang serius jika tidak ditangani. Tugas kita adalah pertama-tama mengasingkan unsure-unsur itu termasuk konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban itu.unsur-unsur dan konsep kunci ini kebanyakan terdapat dalam cabang ilmu yang berkaitan dengan ilmu-ilmu kemanusiaan (sosial). Meskipun begitu, harus pula dicatat ilmu-ilmu exact tetap harus di lakukan karena penafsiran dan perumusan itu sebenarnya bagian dari ilmu-ilmu kemanusiaan.
Islamisasi ilmu pengetahuan masa kini tepatnya berarti bahwa setelah proses pengasingan itu, ilmu yang telah terbebaskan itu kemudian diisi dengan unsure-unsur dan konsep-konsep kunci islam. Karena sifat asasi unsure-unsur dan konsep kunci islam ini merupakan sesuatu yang mendefinisikan fitrah, maka sebenarnya islamisasi akan mengisi ilmu itu dengan fungsi dan tujuannya menjadikannya ilmu sejati. Proses ini tidak akan dapat berjalan dengan cara menerima ilmu pengetahuan masa kini seadanya dan berharap dapat mengislamisasikannya hanya dengan melakukan pencantuman maupun pemindahan yang tidak dapat memberikan hasil yang di inginkan kalau tubuhnya itu telah dikuasai oleh unsure-unsur asing dan telah rusak oleh penyakit. Unsure-unsur dan penyakit asing itu pertama-tama harus di tarik ke luar dan di netralkan sebelum tubuh ilmu itu dapat di bentuk kembali dalam wadah islam.
Tugas penting kita berikutnya adalah merumuskan dan memadukan unsur-unsur islam yang utama serta konsep-konsep kunci sehingga menghasilkan suatu kandungan yang merangkumi ilmu teras untuk kemudian ditempatkan dalam system pendidikan islam, mulai dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi. Ia di rancang dalam susunan berperingkat agar sesuai dengan tahap masing-masing tingkat. Di samping itu juga dalam masa ini di perlukan analisis yang sistematis dan pembetulan-pembetulan dalam usaha penyempurnaan system hingga dirasa memuaskan. Jika tahap ini telah tercapai system itu kemudian dapat di anjurkan kepada dunia islam secara luas. Sedangkan tidak lanjut untuk system pendidikan tingkat yang lebih rendah dapat di rencanakan dan di laksanakan setelah pola lembaga pendidikan dapat disempurnakan.

Sumber:
Al-Attas, Naquib, Syed Muhammad, Islam dan Sekularisme, Instintut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN), ed.Bahasa Indonesia.th. 2010

lintasberita
3

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar